Sabtu, 22 Agustus 2015

Makna Surat At-Tin



  1. Wat tiini waz zaituun
    "Demi Tin dan Zaitun,"
   Pengertian ayat 1:
     Kata Tin dalam Al Quran hanya disebut satu kali, yaitu dalam surat ini. Ada
ahli  tafsir  yang  menyebutkan bahwa 'tin' adalah sejenis buah yang terdapat di
Timur  Tengah.  Bila  matang,  warnanya  coklat,  berbiji seperti tomat, rasanya
manis,  berserat  tinggi,  dan dapat digunakan sebagai obat penghancur batu pada
saluran  kemih  dan  obat  wasir.  Oleh  sebab  itu,  pada  Al  Quran terjemahan
Departemen Agama, kalimat Wattiin diartikan dengan "Demi buah Tin"
     Kata  Zaitun  disebut  empat  kali  dalam Al Quran. "Zaitun" adalah sejenis
tumbuhan  yang  banyak  tumbuh di sekitar  Laut Tengah, pohonnya berwarna hijau,
buahnya  pun berwarna hijau, namun ada pula yang berwarna hitam pekat, bentuknya
seperti  anggur,  dapat  dijadikan  asinan dan minyak yang sangat jernih. Zaitun
dinamai  Al Quran sebagai syajarah mubaarakah (tumbuhan yang banyak manfaatnya).
(Q.S. An-Nuur 24: 35)

     Tidak  semua  ahli  tafsir  sependapat  bahwa  yang dimaksud Tin dan Zaitun
adalah nama buah sebagaimana dijelaskan di atas. Ada juga yang berpendapat bahwa
'Tin'  adalah  nama  bukit  tempat  Nabi  Ibrahim a.s. menerima wahyu, sedangkan
'Zaitun'  adalah  nama  bukit di dekat Yerusalem tempat Nabi Isa menerima wahyu.
Jadi  'Tin'  dan  'Zaitun' adalah dua tempat yang dianggap bersejarah, karena di
tempat itulah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isa a.s. menerima wahyu.

2. Wa thuuri siiniin
3. Wa haadzal baladil amiin
" dan demi bukit Sinai, dan demi kota Mekkah ini yang aman"
 Pengertian ayat 2,dan 3:
     Hampir  seluruh  ahli  tafsir  sependapat kalau yang dimaksud 'Thuur Sinin'
pada  ayat  tersebut  adalah  bukit Tursina atau lebih dikenal dengan nama bukit
Sinai,  yaitu  bukit  yang  berada  di Palestina, tempat Nabi Musa a.s. menerima

4. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwiim
"sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya,"
Pengertian ayat 4:
 Allah  swt.  dalam  ayat  ini menegaskan secara eksplisit bahwa manusia itu
diciptakan  dalam  bentuk  yang  paling sempurna. Ar-Raghib Al-Asfahani, seorang pakar  bahasa  Al Quran menyebutkan bahwa kata 'taqwiim' pada ayat ini merupakan isarat   tentang   keistimewaan   manusia   dibanding   binatang,  yaitu  dengan dikaruniainya  akal,  pemahaman,  dan  bentuk  fisik  yang tegak dan lurus. Jadi 'ahsani taqwiim' berarti bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya.

5. Tsumma radadnaahu asfala saafiliin
"Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya,"
 Pengertian ayat 5:
    Kalau binatang menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhan perut dan syahwat  biologisnya,kita tidak bisa mengategorikannya sebagai perbuatan hina,karena binatang tidak diberi akal dan nurani. Namun, kalau manusia melakukan hal yang sama seperti binatang, kita mengategorikannya sebagai perbuatan hina karena manusia diberi akal dan nurani untuk mengontrol perbuatannya.

6. Illalladziina aamanuu wa'amilushshaalihaati falahum ajrun ghairu mamnuun
"Kecuali orang-orang  yang beriman dan beramal shaleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya."
Pengertian ayat 6:
    Orang yang tidak akan turun pada derajat yang paling rendah adalah orang-orang beriman.Iman secara bahasa bermakna "pembenaran".Maksudnya pembenaran terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, yang
pokok-pokoknya tergambar dalam rukun  iman yang enam; yakni
(1) keesaan Allah swt,(2)  malaikat,(3)  kitab-kitab suci, (4) para nabi dan rasul Allah,(5)hari kemudian,(6) takdir yang baik & buruk.
     Peringkat iman dan kekuatannya berbeda antara satu dan saat lainnya. Begitu
Pula dengan kekuatan iman masing-masing manusia,berbeda antara satu dengan
Lainnya.

7. Famaa yukadzdzibuka ba'du biddiin
"Maka apakah yang menyebabkankamu mendustakan hari pembalasan sesudah adanya keterangan-keterangan itu?"
 pengertian ayat 7:
     Bentuk pertanyaan pada ayat ini,dalam bahasa Arab disebut "istifhaminkari",  mengandung penegasan bahwa tidak ada alasan apapun yang patut membuat manusia mendustakan hari pembalasan dan mengingkari ajaran-ajaran Allah swt,setelah mengetahui bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling mulia.

8. Alaisallaahu biahkamil haakimiin
"Bukankah Allah itu Hakim yang seadil-adilnya?"
     Seolah ayat ini mengatakan,"Pikirkanlah wahai manusia, hanya Allah swt.Hakim yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu hanya aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhanmu!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar